Sarasehan Penamaan Ruang Publik, Taman Kota Resmi Bernama Taman Harmoni dan Eks Kantin Berganti Nama Gedung Groedo

Published

photo

PASURUAN, 6 Februari 2026 –  Wali Kota Pasuruan H. Adi Wibowo, S.Tp, M.Si (Mas Adi) membuka kegiatan sarasehan penamaan taman kota dan gedung eks kantin di lingkungan perkantoran Pemerintah Kota Pasuruan. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Gradika Kota Pasuruan, Kamis malam (5/2).

Sarasehan ini dihadiri oleh Wakil Wali Kota Pasuruan, Sekretaris Daerah Kota Pasuruan, Wakil Ketua DPRD, tokoh masyarakat, budayawan, sejarawan, camat, serta para kepala perangkat daerah.

Dari hasil diskusi dan kesepakatan bersama, ditetapkan bahwa taman kota diberi nama “Taman Harmoni”, sedangkan gedung eks kantin resmi dinamakan “Gedung Groedo”. Penamaan ini diharapkan mencerminkan nilai sejarah, budaya, dan identitas Kota Pasuruan.

Dalam sambutannya, Mas Adi menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya sarasehan yang telah lama menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan.

“Alhamdulillah, ini sudah lama menjadi obrolan, baik di internal Pemerintah Kota Pasuruan, masyarakat, di warung kopi, hingga ruang kajian di kampus. Kita berharap Kota Pasuruan dengan sejarah besarnya tetap bisa kita rawat untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Mas Adi menegaskan bahwa taman kota bukan sekadar ruang hijau, melainkan ruang publik yang memiliki sejarah panjang dan menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Kota Pasuruan dikenal sebagai kota multikultural dengan spirit religius yang kuat. Kita ingin menatap masa depan tanpa terpisah dari akar budaya dan sejarah, namun tetap siap menghadapi modernisasi,” katanya.

Menurutnya, pemberian nama memiliki makna yang sangat penting karena mengandung doa dan harapan. Penamaan Taman Harmoni diharapkan menjadi jembatan sejarah antara masa lalu dan masa depan, agar generasi mendatang tidak terlepas dari akar budaya dan sejarah Kota Pasuruan.

Selain itu, Mas Adi juga menambahkan pentingnya penamaan gedung eks kantin yang selama ini dikenal tanpa identitas khusus.

“Gedung ini memiliki aspek historis. Dengan memberi nama yang tepat dan bermakna, tentu akan menambah nilai dan wibawa gedung tersebut,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa sarasehan ini menjadi ruang dialog bersama antara pemerintah, budayawan, dan sejarawan untuk merangkai nilai sejarah dan kearifan lokal dalam pembangunan Kota Pasuruan ke depan.

“Kami mengajak para budayawan dan sejarawan untuk bersama-sama menyampaikan gagasan, agar aspek historis dan masa depan Kota Pasuruan dapat berjalan selaras,” pungkasnya.